Media Center Pasukan 08
Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Media Center Pasukan 08
Biro: Jawa Timur
KOTA BATU, — Matahari baru saja menyingkap cakrawala Kota Batu ketika Studio Matahati Ceramic membuka pintunya Minggu, 23 November 2025. Udara masih dingin, tapi di dalam studio kecil di Perum Wastu Asri, Junrejo, bara kreativitas sedang menyala—dinyalakan oleh empat tangan muda yang berani bermimpi.
Di ruang itu, Adib Muktafi, Ilham Maulana Putra, Alya Rahmani, dan Rizky Octa Putra Levy—mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (Unesa)—memamerkan karya keramik yang bukan sekadar benda, tetapi jiwa yang dibentuk dari tanah, api, gagasan, dan pengalaman hidup.
Sebuah pameran yang dipandu oleh moderator Raisa Matahati, dengan dukungan penuh Muchlis Arif, pendiri Matahati Ceramic, yang tak hanya menyediakan ruang berkarya, tetapi turut menempa mereka dalam sebuah proses panjang yang penuh kedisiplinan dan cinta pada seni keramik.
“Dari awal gagasan sampai publikasi pameran, mereka menjalani semuanya di sini,” ujar Muchlis dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kebanggaan.
Di studio itu, malam-malam sunyi tak pernah tidur. Tanah liat dibentuk, diperbaiki, diulang, lalu dibakar. Ide-ide dikikis, diperdebatkan, disempurnakan. Tanah hidup di tangan mereka. Empat mahasiswa ini pun berubah menjadi empat seniman.
Kilo Karat: Mesin, Manusia, dan Korosi Harapan
Karya Ilham Maulana Putra bertajuk Kilo Karat menghadirkan dialog yang tak biasa: keramik bertemu dunia otomotif.
“Mesin itu seperti teman hidup,” ujarnya. “Kadang kita lupa bahwa teknologi bisa menolong, tapi juga merusak.”
Keramik yang dibalut efek karat itu mencerminkan rapuhnya harapan manusia pada teknologi yang tak selalu berpihak. Ada keindahan yang retak, ada kekuatan yang justru melukai. Tantangan terbesar bagi Ilham bukan hanya teknik, tetapi keberaniannya menyatukan besi yang keras dan tanah liat yang rapuh dalam satu tubuh karya.
Muchlis Arif menimpali,
“Karat itu seperti nyawa—memberikan karakter. Bukan sekadar estetika, tapi filosofi.”
Dan memang, karya Ilham adalah meditasi tentang masa depan: harapan, ketergantungan, dan kemungkinan kehancuran.
Warna-Warni Gelisah: Luka Masa Kecil yang Menjelma Cahaya
Rizky Octa Putra Levy, atau Levi, merajut kisah yang lebih batiniah. Karyanya, Warna-Warni Gelisah, adalah memoar visual yang ia sebut sebagai “terapi masa kecil”.
Levi pernah menyimpan ketakutan mendalam pada kondisi jalan rusak di Margomulyo, tempat ayahnya bekerja. Dalam proses penyembuhan, ia diperkenalkan pada warna sebagai medium ketenangan. Di situlah gurita dumbo—makhluk laut ungu transparan—menjadi simbol damai dalam gelisah.
Karyanya adalah proses penyembuhan yang dipahatkan ke dalam tanah liat.
Sebuah ruang aman, tempat luka kecil manusia tumbuh menjadi bunga seni.
Membara Membiru: Seni sebagai Perlawanan dan Luka Sosial
Berbeda dengan Levi, Adib Muktafi melangkah ke ranah sosial-politik. Karyanya Membara Membiru adalah potret getir sebuah bangsa.
“Dua matahari itu masyarakat. Mereka membara saat berjuang, tapi sering berakhir dengan biru—warna luka dan kecewa,” katanya.
Merah dan biru diolah Adib menjadi metafora tentang perlawanan yang memanas dan impian yang sering kali dikhianati.
Karyanya mengingatkan bahwa seni adalah cermin masyarakat—bahkan ketika cermin itu memantulkan luka yang enggan dilihat.
Dari Dalam Aku Tunggu: Telur, Rumah, dan Keheningan Kreatif
Alya Rahmani menyuguhkan karya yang lembut namun penuh daya, Dari Dalam Aku Tunggu. Telur adalah rumah, perlindungan, sekaligus ruang tunggu bagi harapan baru.
Alya mengakui bahwa ia pernah terjebak dalam fase “stuck”, seolah seluruh dunia gelap dan ide menutup diri. Namun figur idolanya membantu menembus kabut itu—sosok yang identitasnya tetap ia jaga rapat.
Dalam karyanya, telur bukan sekadar objek. Ia menjadi ruang batin tempat manusia merajut ulang diri sebelum kembali ke dunia yang penuh tantangan.
Empat Api Muda, Satu Semangat Seni Rupa Indonesia
Menyaksikan empat karya ini, Muchlis Arif memberikan penutup yang mencerminkan kepercayaan penuh seorang pembimbing terhadap murid-muridnya.
“Mereka sudah seperti seniman. Bukan lagi mahasiswa yang belajar, tapi kreator yang membangun dunia visualnya sendiri.”
Ia menekankan pentingnya keikhlasan, kerja keras, kecerdasan meramu ide, dan kemampuan bersaing secara nasional maupun internasional.
“Pameran ini bukan akhir. Ini pintu awal mereka menuju dunia seni rupa Indonesia.”
Refleksi Pejuang Gareng-Petruk
Dari tanah liat yang dibakar api, dari ide yang ditempa malam, dari gelisah yang diolah menjadi warna—kita belajar bahwa seni bukan sekadar karya.
Seni adalah perjalanan jiwa.
Kadang retak, kadang membara, kadang menenangkan.
Empat mahasiswa ini telah menunjukkan satu hal penting:
Bahwa mimpi bisa dibentuk, diberi nafas, dan dibiarkan hidup menjadi cerita yang lebih besar dari diri penciptanya.
Dan seperti suara kami di Media Center Pasukan 08 selalu mengingatkan:
“Kami bukan sekadar media, kami pasukan nurani yang menyalakan semangat Indonesia.”










