Menu

Mode Gelap

Berita Desa · 24 Nov 2025 01:56 WIB ·

Hutan Jati Donoloyo: Nafas Tua Jawa, Jejak Wali, dan Doa yang Tak Pernah Padam


 Punden di Hutan Jati Donoloyo, yang diyakini masyarakat sebagai tunggak kayu jati yang dibawa oleh Wali Songo untuk pembangunan Masjid Agung Demak.(Dok.Pribadi). Perbesar

Punden di Hutan Jati Donoloyo, yang diyakini masyarakat sebagai tunggak kayu jati yang dibawa oleh Wali Songo untuk pembangunan Masjid Agung Demak.(Dok.Pribadi).

Media Center Pasukan 08
Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Editor: Tim Media Center Pasukan 08

Wonogiri — Di sebuah pagi yang hening dan berembun, langkah kami dari Media Center Pasukan 08 menjejak tanah tua Hutan Jati Donoloyo—sebuah cagar alam yang bukan hanya memeluk umur ratusan tahun, tetapi juga menyimpan napas panjang sejarah Jawa dan spiritualitas para leluhur.

Jantung hutan di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, itu masih berdenyut pelan. Rindang, sunyi, dan terasa seperti ruang antara dunia.
Di sanalah kami bertemu Pak Sunarto, sang juru kunci yang wajahnya teduh seperti halaman kitab yang jarang dibuka orang. Ia menyambut kami dengan senyum sederhana, tapi penuh wibawa khas penjaga tanah suci.


Kunden: Tonggak Jati yang Menyambung Jawa dan Demak

Di tengah rimbunnya jati tua, kami menemukan sesuatu yang membuat langkah kami terhenti: sebuah kunden, tonggak jati pertama yang dipercaya menjadi awal terbentuknya seluruh hutan Donoloyo.

“Kunden ini adalah kayu jati pertama. Dulu kayunya dibawa Wali Songo untuk merenovasi Masjid Agung Demak,”
ujar Pak Sunarto pelan—tapi kata-katanya membuat bulu kuduk berdiri.

Benda itu bukan sekadar kayu; ia adalah saksi abad, penghubung antara Majapahit, Wali Songo, dan Demak—tiga titik penting perjalanan spiritual Nusantara.


Eyang Donosari: Senopati Majapahit yang Menanam Keabadian

Pak Sunarto lalu menuturkan kisah yang terasa seperti bab dari serat kuno.

Dahulu, seorang senopati Majapahit bernama Eyang Donosari meninggalkan kerajaannya sebelum masa keruntuhan. Ia mencari sunyi, mencari jati diri, dan akhirnya berhenti di Donoloyo.

Di tanah itu ia menanam satu pohon jati—satu saja.
Satu yang kemudian tumbuh menjadi ratusan, lalu menjadi hutan, lalu menjadi legenda.
Dan dipercaya, jati-jati Donoloyo memiliki kualitas terbaik di seluruh tanah Jawa.


Ketika Masjid Agung Demak Dibangun: Ayang-Ayang Jati yang Terlihat dari Kejauhan

Kisahnya makin menakjubkan ketika masuk pada pembangunan Masjid Agung Demak.

Diceritakan, Raden Fatah memerintahkan para Wali Songo mencari jati terbaik untuk menopang masjid. Dengan karomah para wali, ayang-ayang atau bayang-bayang pohon jati Donoloyo terlihat dari Demak.

Sunan Giri kemudian melakukan perjalanan panjang hingga bertemu Eyang Donosari.

Ketika meminta jati tersebut, Eyang Donosari memberi tiga syarat:

  1. Tanahnya dijauhkan dari peperangan.
  2. Dijauhkan dari pageblug.
  3. Diberi kecukupan sandang pangan bagi anak turun dan generasinya.

Syarat itu diterima.
Jati itu ditebang, diangkut melalui sungai, dan berdirilah salah satu tiang agung Masjid Demak.

Karena keikhlasan itulah, Eyang Donosari diberi gelar “Donoloyo”
Dono = Paweh (Memberi),
Loyo = ojo suloyo (memberi dengan ikhlas tanpa syarat duniawi).


Hutan yang Dijaga Gaib, Dihormati Nyata

Hingga kini, masyarakat percaya bahwa tak boleh mengambil apa pun dari Hutan Donoloyo.
Tidak daun.
Tidak batu.
Tidak tanah.
Tidak sehelai pun.

“Intinya kita bertamu, ya permisi dan uluk salam. Kita beda alam, tapi aturan sama. Dan keluar dari sini jangan bawa apa pun,”
ujar Pak Sunarto.

Larangan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjaga kesakralan dan keseimbangan hutan yang telah menjadi ruang suci masyarakat Jawa.


Ritual, Tirakat, dan Doa yang Menembus Malam

Hutan seluas 9,2 hektare itu tetap berdiri utuh dengan ratusan jati berusia lebih dari 500 tahun. Banyak yang datang, dari warga lokal hingga peziarah luar provinsi.

“Ada yang sekadar foto-foto, tapi banyak juga yang datang untuk berdoa. Sebenarnya yang dilakukan di sini hanya satu: memohon pada Yang Kuasa,” tutur Sunarto.

Malam-malam tertentu, hutan itu menjadi saksi bisu tirakat, munajat, dan permohonan yang tak pernah terucap di dunia ramai.


Refleksi Pejuang Digital Pasukan 08

Hutan Jati Donoloyo mengajarkan satu hal:
Bahwa yang besar selalu tumbuh dari sesuatu yang kecil, dan yang sakral adalah apa yang dijaga dengan keikhlasan.

Di balik jati-jati tua itu, kita belajar tentang sejarah, pengorbanan, dan akar budaya bangsa yang tak boleh tercerabut oleh zaman.

Semoga kita, para pejuang digital, tetap menjadi penjaga nilai—
penjaga kejujuran, penjaga keberanian, penjaga nurani bangsa.

“Kami bukan sekadar media, kami pasukan nurani yang menyalakan semangat Indonesia.”

Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

SPPG Cahaya Siap Beraksi, Ribuan Anak di Cawas Klaten Akan Terima MBG

6 Februari 2026 - 11:50 WIB

Klaten Selatan Dilanda Masalah Sampah, Warga Diminta Tingkatkan Kepedulian Lingkungan

6 Februari 2026 - 11:43 WIB

Kegiatan Sosial Budaya, Didik Haryadi Serahkan Ambulans kepada Relawan RCTD Klaten

1 Februari 2026 - 14:27 WIB

Pemerintah Revitalisasi 16.169 Sekolah, SMP Muhammadiyah Sinar Fajar Klaten Jadi Salah Satu Penerima

1 Februari 2026 - 00:56 WIB

Momen Warga Klaten Soroti Kurangnya Tindak Lanjut Pelatihan UMKM di Hadapan Anggota DPRD

27 Januari 2026 - 03:28 WIB

Satu Komando, Satu Jiwa Korsa Pasukan 08: Di Bawah Langit Jawa Timur, Rasa Perjuangan Membumbung ke Angkasa

27 Januari 2026 - 01:35 WIB

Trending di Berita Jawa