Laporan: Pewarta Eko Setyo Atmojo
Klaten – Cawas kembali mengetuk pintu nurani kita. Di SDN 02 Plosowangi, tiga ruang kelas kini berdiri dalam kecemasan: atapnya ambrol, meninggalkan 31 anak yang setiap hari menata masa depan mereka di bawah bayang-bayang bahaya.
Sudah hampir satu semester sekolah ini berjibaku dengan kondisi yang memprihatinkan. Kepala Sekolah, Ibu Retna, bersama para guru, memilih langkah penyelamatan seadanya—menurunkan genteng dan memindahkan anak-anak ke ruang lain yang disekat menjadi kelas darurat.
“Awalnya yang pojok belakang ambrol. Dua kelas kita pindahkan di ruang kepala dan ruang tamu. Kita pasang tali pramuka agar anak-anak tidak bermain di situ… tapi masih ada yang ngeyel. Akhirnya ya diturunkan,” tuturnya dengan nada yang menyimpan kelelahan dan tanggung jawab yang berat.
Mujur Musibah Tak Mampir saat Anak Belajar
Satu hal yang patut disyukuri:
atap itu runtuh ketika murid telah pulang.
“Kita lihat plafon sudah bolong, kayunya rapuh. Untungnya pas habis jam 12 itu ambrol,” ungkapnya, seolah menghela napas panjang karena lolos dari tragedi.
Namun, syukur hari ini tidak boleh menjadi alasan untuk menunda ikhtiar. Karena besok tak ada yang menjamin keselamatan jika ruang darurat pun tak lagi kuat menerima beban.
Sudah Ajukan Proposal, Jawaban Masih Menunggu Waktu
Ibu Retna mengaku sudah tiga kali mengirim proposal perbaikan ke dinas terkait. Namun hingga hari ini, belum ada balasan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Titin Windiyarsih, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, hanya menjawab:
“Njih kami cek segera.”
Sebuah janji singkat yang kini menjadi harapan besar bagi anak-anak Plosowangi.

Suara Dari Sekolah yang Hampir Lupa Didengar
Para guru, orang tua, dan murid tak meminta bangunan megah—mereka hanya ingin ruang kelas yang aman untuk belajar.
“Jangan hanya sekolah yang sudah bagus saja yang diperhatikan. Masih banyak sekolah seperti kami, itu juga harus diperhatikan,” pungkas Kepala Sekolah.
Karena pendidikan bukan sekadar deret angka dalam laporan pembangunan.
Di sinilah wajah masa depan bangsa ditempa—di ruang-ruang kelas kecil yang sering terabaikan.
Semoga langkah cepat segera hadir… sebelum genteng yang jatuh berubah menjadi air mata kehilangan.
Kami bukan sekadar media, kami pasukan nurani yang menyalakan semangat Indonesia.










