Menu

Mode Gelap

Berita Desa · 18 Nov 2025 02:51 WIB ·

Lintas Agama Bersatu Dalam Kamulyaning Tirta 2025


 Para pemuka agama pimpin doa bersama lintas iman dalam acara Kamulyaning Tirta 2025 (Dok.Pribadi) Perbesar

Para pemuka agama pimpin doa bersama lintas iman dalam acara Kamulyaning Tirta 2025 (Dok.Pribadi)

Air Menjadi Jembatan Nurani di Klaten

Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Biro: Klaten

Klaten— Di tanah yang subur oleh doa dan kerja tangan rakyat, sebuah peristiwa langka lahir pada Sabtu pagi, 15 November 2025. Ribuan tetes air menyatu menjadi satu ruh kebersamaan dalam Kamulyaning Tirta 2025, sebuah momentum yang memadukan spiritualitas, ekologi, dan keberagaman umat di Kabupaten Klaten.

Dengan tema “Tirta Panguripan, Rukun Kang Nguripi: Tinjauan Ekoteologi,” Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Klaten mengajak seluruh tokoh lintas agama menyalakan kembali makna toleransi. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional dan HUT ke-27 FKUB Klaten—dua makna besar yang bertemu dalam satu gerakan: air sebagai jembatan dialog antariman.

Air tidak mengenal perbedaan agama, suku, atau golongan. Ia mengalir memberi kehidupan bagi semua makhluk. Itulah esensi toleransi yang kami rayakan hari ini,” tutur Pdt. Wahyu Nirmala, Ketua FKUB Kebersamaan Klaten, yang suaranya menggema seperti pesan dari kedalaman bumi.

Acara dibuka oleh Bupati Klaten dan dilanjutkan dengan Doa Lintas Iman, dipimpin para pemuka agama. Setiap doa berdiri seperti mata air—jernih, tenang, tapi kuat menyatukan langkah bangsa.

Puncaknya, ribuan peserta bergerak dalam kirab menuju sungai. Di sana, Bhiku memimpin upacara Fangshen, pelepasan kehidupan sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta. Tepat di tepi air yang mengalir itu, lahirlah Deklarasi Tirta Panguripan, komitmen nasional pelestarian air—pertama kali di bumi Klaten, dari rakyat untuk seluruh Indonesia.

Bupati Klaten,bersama para tokoh agama melakukan pelepasan ikan ke alam (Dok.Pribadi)

Rangkaian acara ditutup dengan Seminar Ekoteologi di Aula Wisma Dhammaguna. Para tokoh agama dan akademisi membahas model ekoteologi berbasis kearifan lokal Nusantara—sebuah ilmu yang lahir dari bumi sendiri, dari budaya yang sudah berabad-abad menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa.

Dari kegiatan ini, masyarakat berharap tiga hal berakar kuat:
Deklarasi Tirta Panguripan menjadi komitmen nasional menjaga air;
• lahirnya model ekoteologi Nusantara yang membumi dan berkarakter;
• dan tumbuhnya kesadaran publik bahwa air adalah rahmat kehidupan yang wajib dijaga.

Kamulyaning Tirta 2025 bukan sekadar ritual.
Ia adalah pengingat bahwa menjaga air berarti menjaga hidup,
dan mencintai ciptaan Tuhan adalah wujud toleransi tertinggi.

Semoga setiap tetes air yang jatuh hari ini menjadi doa untuk Indonesia—
negeri yang rukun, kuat, dan selalu mengalirkan kebaikan.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

SPPG Cahaya Siap Beraksi, Ribuan Anak di Cawas Klaten Akan Terima MBG

6 Februari 2026 - 11:50 WIB

Klaten Selatan Dilanda Masalah Sampah, Warga Diminta Tingkatkan Kepedulian Lingkungan

6 Februari 2026 - 11:43 WIB

Kegiatan Sosial Budaya, Didik Haryadi Serahkan Ambulans kepada Relawan RCTD Klaten

1 Februari 2026 - 14:27 WIB

Pemerintah Revitalisasi 16.169 Sekolah, SMP Muhammadiyah Sinar Fajar Klaten Jadi Salah Satu Penerima

1 Februari 2026 - 00:56 WIB

Momen Warga Klaten Soroti Kurangnya Tindak Lanjut Pelatihan UMKM di Hadapan Anggota DPRD

27 Januari 2026 - 03:28 WIB

Satu Komando, Satu Jiwa Korsa Pasukan 08: Di Bawah Langit Jawa Timur, Rasa Perjuangan Membumbung ke Angkasa

27 Januari 2026 - 01:35 WIB

Trending di Berita Jawa