Klaten — Di sebuah sudut tenang Kecamatan Jatinom, ada denyut kecil perjuangan yang jarang disorot. Pemerintah Desa (Pemdes) Gedaren tengah melakukan renovasi Umbul Gedaren—bukan sekadar memperlebar kolam air, tetapi memperluas harapan rakyatnya. Sebagian sisi selatan yang dulu hanya menjadi tempat parkir, kini dikeruk untuk memperbesar daya tampung umbul.
Kepala Desa Gedaren, Udin Diantara, ditemui di kantornya pada 17 November, menyampaikan alasan sederhana namun bernas: air harus cukup untuk petani; hidup harus cukup untuk rakyat.
“Harapannya, ketika diperlebar, penampungan debit air akan bertambah sehingga mengairi pertanian di Gedaren lebih cukup,” ujar Kades, dengan nada yang memadukan tanggung jawab dan ketulusan.
Renovasi ini bukan hanya soal air. Ini soal masa depan. Kades berharap Umbul Gedaren kelak menjadi sumber ekonomi baru bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gedaren dan masyarakat sekitar.
“Supaya umbul nanti banyak pengunjung, agar warga bisa berjualan di situ dan mendapat rezeki dari Umbul Gedaren,” tambahnya.
Yang membuat langkah ini berbeda adalah sumber dananya. Renovasi sudah berjalan sekitar satu bulan—bukan dari kas desa, bukan dari program pemerintah—melainkan dari kocek pribadi sang kepala desa.
“Tidak bisa memastikan kapan selesai, karena ini bukan dana kantor, tapi dana pribadi saya. Tapi saya usahakan secepatnya,” ungkapnya.
Ada kejujuran yang jarang ditemui pada pejabat publik. Sebuah pengakuan masa lalu yang tak biasa, namun justru memanusiakan.
“Dulu saya ini anak nakal. Sejak sekolah saya sudah jualan ciu. Makanya sekarang saya ingin berbuat baik,” ucap Kades, lirih tapi tegas, seolah sedang menutup satu bab kelam demi membuka halaman baru untuk rakyatnya.
Ke depan, Umbul Gedaren akan dilengkapi pagar tinggi di sisi selatan, serta pintu masuk tunggal di samping kantor desa untuk keamanan. Warga tetap diperbolehkan mencuci tikar dan karpet di umbul—tradisi kecil yang tetap dijaga.
Umbul Gedaren sendiri telah ada sejak lama. Tak ada catatan pasti, tapi dugaan Kades mengarah pada masa Dinasti Syailendra, dikuatkan oleh batu-batu tua di dasar umbul yang telah diuji laboratorium purbakala.
“Batu-batu itu diperkirakan sejak Dinasti Syailendra,” pungkasnya.

Doa Pejuang Digital
Di desa kecil ini, air kembali dijernihkan, tekad kembali disucikan. Semoga Umbul Gedaren bukan hanya menjadi penampung air, tapi penampung berkah—bagi para petani, bagi para pedagang, bagi siapa saja yang mencari kehidupan yang lebih layak.
Kami bukan sekadar media, kami pasukan nurani yang menyalakan semangat Indonesia.
(Eko Setyo, Klaten)










