Oleh : Ketua Umum Pasukan 08
Kepada siapa, wahai tanah air tercinta, kepada siapa?
Kepada siapa rakyat jelata menggugat kemerdekaan, jika hukum tak lagi berpihak pada kebenaran dan keadilan?
Jika palu keadilan yang dulu berdentang tegas kini hanya bergema kosong di ruang-ruang sidang yang sunyi,
Diperjualbelikan seperti barang dagangan, terbungkus dalam amplop-amplop tebal yang tak pernah mengenal kata cukup.
Rakyat bertanya dengan lirih, kepada siapa mereka mengadu,
Ketika keadilan hanyalah bayang-bayang semu yang semakin jauh menghilang di cakrawala harapan?
Kepada siapa, wahai angin yang berhembus lirih, kepada siapa?
Kepada siapa rakyat jelata mengeluh, jika para penguasa tak lagi mendengar tangisan mereka?
Jika suara mereka tenggelam dalam gemuruh pesta pora dan sorak sorai di gedung-gedung megah,
Tempat di mana mereka yang berkuasa bersulang, tak peduli pada isak tangis yang membekukan malam,
Pada doa-doa yang menggema di langit malam, memohon secercah harapan, secuil perhatian.
Rakyat bertanya dengan hati yang perih, kepada siapa mereka berseru,
Ketika tangisan mereka hanyalah riak-riak kecil di tengah lautan kepentingan yang luas dan dalam?

Kepada siapa, wahai bintang di langit malam, kepada siapa?
Kepada siapa rakyat jelata berharap, jika para pejabat yang seharusnya melindungi, kini banyak yang berkhianat,
Menutup telinga, membutakan mata, berpaling dari amanah yang telah mereka emban,
Menggenggam janji-janji kosong dalam tangan yang dingin,
Sementara rakyat dibiarkan layu, terinjak oleh roda kebijakan yang berat sebelah.
Rakyat bertanya dengan suara gemetar, kepada siapa mereka menggantungkan harapan,
Ketika nasib mereka tergantung di ujung tali yang sudah lama terkoyak,
Terbawa arus janji yang menguap sebelum sempat tertangkap?
Kepada siapa lagi, wahai mentari yang memancar sinar, kepada siapa?
Kepada siapa rakyat jelata percaya, jika ternyata janji-janji kampanye hanya tinggal janji,
Diterbangkan angin seperti daun-daun kering di musim kemarau,
Hilangkan makna, tinggal kenangan yang memedihkan hati.
Rakyat bertanya dengan hati yang penuh luka, kepada siapa mereka menaruh kepercayaan,
Ketika mereka yang dulu bersumpah setia kini berbalik arah,
Meninggalkan rakyat terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian.
Wahai rakyat jelata, kepada siapa lagi kita bertanya?
Kepada siapa kita mengadu jika bukan kepada Sang Pencipta,
Yang Maha Melihat, Maha Mendengar setiap jerit tangis yang tersembunyi dalam malam,
Yang Maha Adil, Maha Bijaksana dalam setiap keputusan yang diambil.
Namun, apakah kita hanya akan diam dalam ketidakberdayaan,
Menyerah pada nasib yang digariskan oleh tangan-tangan yang tak peduli pada derita kita?

Wahai rakyat jelata, janganlah menyerah!
Dalam gelapnya malam, carilah cahaya dalam diri kita sendiri,
Nyala api kecil yang tetap bertahan, meski diterpa angin kencang dan badai kehidupan.
Kita adalah suara yang tak akan pernah padam,
Kita adalah arus yang tak akan pernah berhenti mengalir,
Mengalir menuju lautan luas kebebasan dan keadilan yang sejati.
Wahai rakyat jelata, mari kita bangkit!
Gugatan kita bukanlah sekadar kata-kata yang terbuang sia-sia,
Tapi panggilan untuk menyatukan kekuatan, untuk melawan ketidakadilan yang mencekik.
Kita tak akan berhenti menggugat, tak akan berhenti bertanya,
Hingga keadilan benar-benar kembali,
Hingga kemerdekaan yang sejati menjadi milik kita semua.
Wahai rakyat jelata, biarlah air mata ini menjadi saksi,
Saksi dari tekad yang tak pernah pudar,
Saksi dari harapan yang tak akan pernah mati.
Dan suatu hari nanti, di bawah langit yang cerah tanpa awan hitam,
Kita akan berdiri bersama, menggenggam erat kemerdekaan yang telah lama kita perjuangkan,
Kemerdekaan yang akhirnya benar-benar menjadi milik kita semua.
Wahai rakyat jelata, tetaplah percaya, tetaplah berjuang,
Karena kemerdekaan itu akan datang,
Dan ketika saatnya tiba, air mata kita akan berubah menjadi tawa,
Tawa kemenangan yang tulus dan abadi.














