Menu

Mode Gelap

Berita Pasukan08 · 1 Feb 2026 15:09 WIB ·

Episode II: Tuhan yang Menangis di Balik Gedung Parlemen


 Episode II: Tuhan yang Menangis di Balik Gedung Parlemen Perbesar

Aku berjalan melewati kota
yang lampu-lampunya terang
namun jiwanya padam.

Gedung-gedung tinggi berdiri seperti menara doa,
tetapi tak ada dzikir di dalamnya—
hanya angka,
hanya transaksi,
hanya kepentingan yang saling menikam
dengan senyum yang rapi.

Di balik gedung parlemen itu,
aku merasa Tuhan duduk sendiri.
Sunyi.
Terasing.
Seperti tamu agung yang diundang namanya
namun ditinggalkan kehendaknya.

Tuhan menangis,
bukan karena Ia lemah,
tetapi karena manusia terlalu pongah
atas nama-Nya.

Aku mendengar ayat-ayat dikutip
seperti senjata,
dipilih yang menguntungkan,
dibuang yang menuntut keadilan.

Tauhid dijadikan topeng,
nasionalisme dijadikan poster,
rakyat dijadikan angka statistik
yang mudah dihapus dari laporan tahunan.

Malam itu aku berdiri di trotoar,
menyaksikan wakil-wakil rakyat keluar
dengan jas mahal dan wajah tanpa luka.

Aku bertanya pada diriku sendiri:
di mana letak Tuhan dalam keputusan-keputusan itu?
Apakah Ia hanya hadir di pembukaan sidang,
lalu disuruh pulang sebelum voting dimulai?

Tauhid Kebangsaan yang Retak

Khalil Gibran pernah menulis
bahwa bangsa yang besar
adalah bangsa yang berani menatap cermin.

Namun cermin itu kini pecah.
Pantulannya terdistorsi.
Yang tampak hanyalah wajah-wajah
yang lupa siapa dirinya
dan untuk siapa kekuasaan itu diberikan.

Aku melihat rakyat seperti doa
yang tak pernah sampai ke langit,
karena terjebak di langit-langit gedung kekuasaan.

Petani berdoa dengan tanah kering.
Buruh berdoa dengan tulang punggung yang patah.
Ibu-ibu berdoa dengan dapur yang sunyi.

Dan di atas semua itu,
Tuhan mendengar—
tetapi manusia yang memegang kuasa
memilih tuli.

Nasionalisme Tanpa Air Mata

Ada nasionalisme yang lantang,
namun tak pernah menangis.
Ada pidato yang berapi-api,
namun tak pernah menyentuh perut lapar.

Aku mulai mengerti:
bangsa bisa runtuh bukan karena kekurangan slogan,
tetapi karena kelebihan kepalsuan.

Tauhid Kebangsaan menuntut keberanian
untuk jujur pada diri sendiri:
bahwa menyakiti rakyat
adalah bentuk ibadah yang gagal.

Malam semakin pekat.
Aku melihat bayangan Tuhan
menjauh dari gedung itu,
bukan karena Ia pergi,
tetapi karena Ia diusir
oleh keserakahan yang disucikan.

Dan aku menunduk,
bukan pada kekuasaan,
tetapi pada rasa malu
sebagai manusia dan anak bangsa.

Sebab bangsa yang kehilangan Tuhan
bukanlah bangsa yang sekuler,
melainkan bangsa yang memonopoli nama Tuhan
tanpa akhlak dan kasih.

Tauhid Kebangsaan

Antologi Sunyi tentang Tuhan, Tanah Air, dan Manusia

Karya : Arfian D Septiandri, S.Kom, MBA, SH, CCA, CCSA, CIISA, C.ED

Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Hj. Dahlia Suhartono SKM, M.Si Resmi Jabat Sekretaris Pasukan 08 Sumut yang Baru

6 Februari 2026 - 11:57 WIB

SPPG Cahaya Siap Beraksi, Ribuan Anak di Cawas Klaten Akan Terima MBG

6 Februari 2026 - 11:50 WIB

Klaten Selatan Dilanda Masalah Sampah, Warga Diminta Tingkatkan Kepedulian Lingkungan

6 Februari 2026 - 11:43 WIB

Episode I: Di Antara Sajadah dan Bendera

1 Februari 2026 - 05:24 WIB

IUS CORDIS (II) – Ketika Hukum Bertanya pada Hatinya Sendiri: Dari Negara Pasal Menuju Negara Nurani

1 Februari 2026 - 04:47 WIB

Part 1 : Sebuah Gagasan Ius Cordis: Ketika Keadilan Turun dari Langit Nurani, Bukan Sekadar Pasal dan Palu

27 Januari 2026 - 05:17 WIB

Trending di Berita Pasukan08