Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Media Center Pasukan 08
Biro: Jawa Timur
Kota Batu, — Diskusi seni rupa bertajuk “Jelajah Ekosistem Seni Rupa” menghadirkan kurator sekaligus penulis sejarah seni, Ayos Purwoaji, dengan moderator Raisa Matahati. Kegiatan ini berlangsung di Studio Matahati Ceramic, Perumahan Wastu Asri, Junrejo, Kota Batu, pada Sabtu, 15 November 2025.
Dalam forum tersebut, Ayos mengupas secara tajam dinamika ekosistem seni rupa di Jawa Timur—mulai dari potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap hingga tantangan internal yang masih menghambat kemajuan para pelakunya.
Potensi Besar, Tantangan Ada di Mentalitas Bersaing
Menurut Ayos, salah satu hambatan terbesar seni rupa Jawa Timur justru datang dari mentalitas sebagian seniman muda yang enggan tampil dan berkompetisi. Ia menilai banyak bakat muda yang memilih tetap berada “di balik layar”, sehingga karya-karya mereka tidak mendapatkan panggung yang layak.
“Banyak seniman muda berbakat tidak muncul ke permukaan karena kurangnya keberanian untuk bersaing dan memamerkan karya. Padahal ikut lomba dan pameran, terutama di luar Jawa Timur, adalah bagian penting dari proses pendewasaan,” jelas Ayos.
Karakter Seni Jawa Timur: Kaya, Beragam, Namun Kurang Terlihat
Ayos menyoroti bahwa seni rupa Jawa Timur memiliki kekhasan kuat, namun kerap belum dikenal secara luas di luar wilayahnya. Berbeda dengan Jakarta, Bandung, Jogja, atau Bali yang memiliki patronase seni yang kokoh, Jawa Timur justru berkembang dengan pola yang lebih independen dan terfragmentasi.
“Saya sering ke Jakarta, Bandung, bahkan Jogja. Saya selalu bangga mengatakan bahwa Jawa Timur punya ekosistem seni yang berbeda dan beragam, walau memang belum terlalu dikenal secara luas,” katanya.
Ia menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap karya dan budaya lokal.
“Kalau bukan kita yang membangun kebanggaan terhadap Jawa Timur, lalu siapa lagi?” tegasnya.
Fragmentasi Ekosistem: Tantangan Sekaligus Peluang
Dalam pemaparannya, Ayos menjelaskan bahwa tidak adanya satu pusat patronase besar membuat ekosistem seni rupa Jawa Timur berjalan sendiri-sendiri. Kota-kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Banyuwangi, Madura, hingga Madiun memiliki gaya visual yang berbeda dan berkembang tanpa saling memengaruhi.
Contohnya, Malang dan Batu—meski berdekatan—menunjukkan karakter seni yang berbeda. Madura memiliki kekhasan tradisional yang kuat, sementara Banyuwangi banyak dipengaruhi oleh seni Bali karena interaksi aktif para seniman mudanya.
“Ini menunjukkan bahwa seni rupa Jawa Timur bukan satu suara, melainkan pluralisme yang aktif dan dinamis,” ungkap Ayos.
Kondisi ini, meski menjadi kendala dalam membangun narasi besar, justru membuka peluang yang luas untuk kolaborasi lintas daerah dan pembentukan simpul-simpul jaringan baru.
Langkah Strategis untuk Masa Depan Seni Rupa Jawa Timur
Ayos memaparkan beberapa strategi agar seni rupa Jawa Timur dapat melangkah lebih jauh:
- Mendorong keberanian seniman muda untuk tampil dan mengikuti kompetisi.
- Menguatkan kolaborasi antarkomunitas serta membentuk patronase yang inklusif.
- Menonjolkan karakter estetika dan budaya lokal tiap daerah.
- Memperluas akses seniman ke pameran nasional maupun internasional.
- Meningkatkan kualitas fasilitas galeri, ruang pamer, dan pendidikan seni.
Menurut Ayos, konsistensi dalam strategi tersebut akan mampu memecah kebekuan dan membangun kekuatan kolektif seni rupa Jawa Timur.
Menutup Ruang, Membuka Peluang
Dalam penutupnya, Ayos menyebut bahwa forum “Mata Ruang Lama Kini” menjadi ruang penting bagi seniman Jawa Timur untuk merefleksikan posisi serta arah pergerakan seni rupa ke depan.
“‘Mata Ruang Lama Kini’ membuka peluang bagi seniman Jawa Timur untuk bersuara lebih lantang dan menyinari panggung seni dengan potensi terbaik mereka. Saatnya seni rupa Jawa Timur melangkah maju dengan keberanian dan kreativitas menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.










