Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Editor: Tim Redaksi Pasukan08.com
Biro: Jawa Tengah
Di tengah suasana hangat acara sambung rasa Bupati Klaten di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, suara jujur rakyat kecil pecah dari barisan depan.
Seorang Ketua RW dengan nada tegas namun tulus, Suharno, menyampaikan isi hati banyak pejuang akar rumput:
RT dan RW — ujung tombak pemerintahan desa — sering kali bekerja tanpa penghargaan yang sepadan.
“Disini orang ditunjuk jadi Ketua RT/RW itu gak ada yang mau, Pak. Karena tanggung jawabnya besar, tapi kesejahteraannya minim,” ujar Suharno lantang.
“RT dan RW juga manusia, Pak. Kadang juga pusing, masuk angin. Kami minta jaminan kesehatan,” tambahnya, disambut tepuk tangan warga.
Ungkapan sederhana itu seperti menyentil kesadaran banyak orang: RT dan RW bukan sekadar jabatan sosial, tapi garda terdepan dalam mengelola urat nadi kehidupan masyarakat desa.
🧩 RT/RW: Garda Depan, Tapi Nasib Belum Terlihat
Di tangan merekalah, urusan warga dijembatani, konflik diselesaikan, dan program pemerintah diterjemahkan ke bahasa rakyat.
Namun, seperti kata Suharno, banyak warga tak mau lagi jadi Ketua RT/RW karena tanggung jawabnya besar tapi tidak diiringi kesejahteraan.
Pasukan 08 melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa semangat gotong royong bangsa perlu “diremajakan” — bukan dengan janji, tapi dengan aksi nyata.
“RT dan RW itu bukan relawan politik, tapi relawan kehidupan sosial,” ujar Arfian, Ketua Umum Pasukan 08.
“Kalau negara ingin kuat, ya perkuat dulu pondasi rakyatnya. Jangan biarkan ujung tombak tumpul karena kelelahan.”
💬 Bupati Klaten: Ikhlas Itu Berat, Apalagi Kalau Perut Ikut Kosong
Menanggapi permintaan itu, Bupati Klaten, Hamenang, tak menampik realita. Ia mengakui bahwa jabatan RT/RW memang didasari semangat pengabdian, bukan gaji.
Namun, dengan nada jujur dan sedikit humor, ia pun mengakui bahwa “ikhlas zaman sekarang memang berat.”
“Jabatan RT/RW itu bukan jabatan yang menghasilkan gaji, karena dasarnya pengabdian. Tapi ya saya tahu, ikhlas zaman sekarang juga berat. Kebutuhan banyak, tuntutan warganya juga banyak. Belum lagi kalau warganya ngeyel-ngeyel,” ujar Bupati sambil tersenyum.
Bupati pun berjanji, ketika ekonomi daerah mulai membaik dan Pendapatan Asli Desa (PADes) meningkat, kesejahteraan RT dan RW akan ditingkatkan.
“Semua anggaran sekarang belum naik, malah turun. Tapi nanti kalau ekonomi membaik, kesejahteraan RT/RW pasti kami tingkatkan,” kata Hamenang menutup sambutannya.
✊ Pasukan 08: “Janji Itu Harus Ditepati, Karena Perut Rakyat Tak Bisa Menunggu!”
Menanggapi janji Bupati, Pasukan 08 menegaskan dukungan penuh pada perjuangan RT/RW, namun dengan sikap kritis konstruktif.
“Kami apresiasi janji Bupati, tapi janji tanpa tenggat waktu itu sama saja menabung harapan di celengan kosong,” ujar Arfian tegas.
“RT dan RW bukan sekadar relawan desa, tapi benteng pertama yang menjaga kestabilan sosial. Kalau mereka lemah, negara ikut goyah.”
Pasukan 08 juga mendorong agar kesejahteraan RT/RW dimasukkan ke dalam rencana prioritas APBD tahun depan, serta dipertimbangkan untuk jaminan kesehatan berbasis BPJS daerah.
💡 Fakta: RT dan RW, Kecil Tapi Vital
- Indonesia memiliki lebih dari 800 ribu RT dan 200 ribu RW yang aktif di tingkat desa/kelurahan.
- Sebagian besar tak menerima upah tetap, hanya insentif kecil dari dana desa.
- Mereka menjadi perantara utama antara rakyat dan kebijakan pemerintah.
- Banyak Ketua RT/RW lanjut usia masih aktif tanpa jaminan kesehatan memadai.
🗣️ Quote Pasukan 08 Hari Ini:
“Negara besar bukan karena gedungnya tinggi, tapi karena rakyat kecilnya dihargai.” — Arfian, Ketua Umum Pasukan 08
Pasukan 08 berdiri tegak bersama RT dan RW,
bukan untuk menuntut berlebihan, tapi untuk mengingatkan:
bahwa pengabdian harus dibayar dengan penghargaan yang manusiawi.
💬 “RT/RW juga manusia, Pak!” — kalimat sederhana, tapi mungkin itulah seruan paling jujur dari jantung rakyat hari ini.
Apakah kamu setuju RT dan RW perlu jaminan kesejahteraan dan kesehatan yang layak?
👉 Tulis pendapatmu di kolom komentar! Karena suara rakyat, adalah kompas perjuangan Pasukan 08!










