Menu

Mode Gelap

Karya · 18 Agu 2024 22:07 WIB ·

Garuda Gagap: Narasi Kepedihan Bangsa yang Terkoyak


 Garuda Gagap: Narasi Kepedihan Bangsa yang Terkoyak Perbesar

Oleh : Ketua Umum Pasukan 08


Wahai Garuda, lambang jiwa yang dulu perkasa,
Kini kau terbang dengan sayap yang lemah, gagap dalam arus angin zaman,
Tak mampu melawan badai yang datang dari segala penjuru,
Terhuyung-huyung di bawah langit yang dulu cerah,
Kini mendung oleh awan hitam penjajahan baru yang tak kasat mata,
Penjajahan yang tak lagi datang dengan meriam dan senapan,
Tapi dengan teknologi yang menyusup halus,
Merenggut kedaulatanmu tanpa suara,
Menggoyahkan pijakanmu yang dulu kokoh.

Wahai Garuda, mengapa engkau gagap,
Ketika budaya asing menyusup dalam darah anak-anakmu,
Mereka yang dulu bangga dengan warisan leluhur,
Kini menari dalam irama yang bukan lagi milik mereka,
Berbicara dalam bahasa yang tak lagi mengenal akar bangsa,
Terlena dalam pesona yang menjauhkan mereka dari jati diri.
Budaya kita tergerus, seperti pasir yang diterpa ombak tak berkesudahan,
Sedangkan kau, Garuda, hanya bisa terdiam,
Tak mampu menahan arus yang mengikis perlahan,
Menghancurkan warisan yang seharusnya kita jaga bersama.

Wahai Garuda, apakah kau tak mendengar,
Deru langkah mereka yang datang dari negeri jauh,
Eksodus yang merajalela, mengisi tanah-tanah yang seharusnya milik kita,
Membangun kota dalam kota, tembok dalam tembok,
Memisahkan diri mereka dari kita, seolah kita hanyalah bayangan di tanah mereka.
Mereka datang tanpa senjata, tapi dengan modal dan kekuasaan,
Membeli kedaulatan kita seharga uang yang tak pernah kita bayangkan,
Dan kau, Garuda, mengapa hanya terpaku,
Membiarkan tanah air yang seharusnya kita lindungi,
Kini menjadi ladang subur bagi mereka yang datang tanpa undangan?

Wahai Garuda, apa yang terjadi pada mata elangmu,
Yang dulu tajam memandang musuh dari jauh,
Kini buta oleh kilauan emas dan janji manis yang mereka tawarkan.
Ekonomi kita dijajah tanpa kita sadari,
Pasar-pasar kita penuh dengan barang yang bukan buatan kita,
Kekayaan alam kita dihisap hingga kering,
Hasil bumi kita dijual murah, sementara mereka meraup untung besar.
Dan instansi yang seharusnya menjadi pelindung,
Malah menjadi penjaga pintu, membiarkan mereka masuk dengan mudah,
Menggadaikan masa depan bangsa demi keuntungan sesaat.

Wahai Garuda, kau tak lagi mampu berkokok,
Ketika pendidikan kita diinjak oleh sistem yang tak berpihak,
Generasi penerus kita dididik untuk menjadi buruh di tanah sendiri,
Bukannya pemimpin yang berani berdiri di atas kaki sendiri.
Politik kita dijajah oleh mereka yang berdasi,
Yang memegang kendali dari balik layar,
Membuat keputusan yang tak lagi memihak rakyat,
Tapi pada kantong-kantong mereka yang sudah gemuk oleh korupsi.

Wahai Garuda, apakah kau tak lagi berani berkibar,
Dalam angin politik yang penuh dengan intrik dan tipu daya?
Institusi-institusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir,
Kini telah roboh oleh godaan kekuasaan dan uang.
Mereka yang kita percaya untuk menjaga negeri ini,
Justru menjadi pemandu bagi penjajah yang datang dengan senyum lebar,
Menyerahkan kunci-kunci kedaulatan tanpa rasa malu,
Membiarkan mereka merajalela, mengambil alih tanah air yang dulu kita perjuangkan dengan darah dan air mata.

Wahai Garuda, apa yang terjadi padamu?
Kenapa kau gagap dalam menghadapi semua ini?
Apakah nyalimu sudah terkikis oleh waktu?
Ataukah hatimu telah menjadi beku,
Oleh kenyamanan semu yang diberikan oleh penjajah modern ini?

Wahai Garuda, bangkitlah!
Jangan biarkan penjajahan ini terus merajalela,
Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam bayang-bayang ketidakberdayaan,
Jangan biarkan tanah air ini tergadai oleh kepentingan segelintir orang,
Yang tak peduli pada nasib bangsa.

Wahai Garuda, kembalilah menjadi lambang yang perkasa,
Bangkitkan sayapmu yang lemah, kokohkan kembali pijakanmu,
Tajamkan mata elangmu yang telah lama tumpul,
Dan lawanlah segala bentuk penjajahan yang kini mengepung kita.

Wahai Garuda, buktikan bahwa kau masih sanggup terbang tinggi,
Di atas angin kebebasan, di bawah langit kedaulatan,
Menjaga tanah air ini dari segala bentuk ancaman,
Menjadi pelindung sejati bagi bangsa yang telah lama merindukan kepastian.
Karena di bawah sayapmu, wahai Garuda,
Kami masih berharap, kami masih percaya,
Bahwa suatu hari nanti, negeri ini akan kembali berdaulat,
Merdeka dalam arti yang sesungguhnya,
Bukan hanya dalam kata, tapi dalam setiap jengkal tanah,
Dalam setiap denyut nadi anak-anak bangsa.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Episode II: Tuhan yang Menangis di Balik Gedung Parlemen

1 Februari 2026 - 15:09 WIB

Episode I: Di Antara Sajadah dan Bendera

1 Februari 2026 - 05:24 WIB

IUS CORDIS (II) – Ketika Hukum Bertanya pada Hatinya Sendiri: Dari Negara Pasal Menuju Negara Nurani

1 Februari 2026 - 04:47 WIB

Part 1 : Sebuah Gagasan Ius Cordis: Ketika Keadilan Turun dari Langit Nurani, Bukan Sekadar Pasal dan Palu

27 Januari 2026 - 05:17 WIB

Jenderal-Jenderal Presiden Prabowo di Lahan Sawit: Bersama Agrinas, Garda Terdepan Menjaga Tanah Bangsa dari Cukong Penjarah

10 Januari 2026 - 02:38 WIB

Kasus Bu Ari Sego Liwet: Risiko Pejabat Pemerintah dan Pelajaran tentang Keberanian yang Berbalut Kejujuran

24 November 2025 - 02:22 WIB

Trending di Hukum