Oleh : Ketua Umum Pasukan 08
Wahai tanah airku, ibu pertiwi yang dahulu subur dan kaya,
Kini kau dipenuhi oleh cacing-cacing yang datang dari seberang lautan,
Menggali lubang-lubang dalam perutmu, menyedot habis saripati tanahmu,
Mereka datang tanpa diundang, tanpa ragu, tanpa malu,
Merebut ruang-ruang yang seharusnya milik kita,
Membanjiri pasar-pasar dengan barang-barang mereka,
Barang-barang yang murah tapi mematikan,
Membunuh pelan-pelan UMKM kita yang dulu kokoh,
Yang dulu menjadi penopang hidup rakyat kecil,
Kini terancam mati dalam kesunyian, tak berdaya melawan arus besar dari negeri asing.

Wahai negeri yang dahulu merdeka,
Kini kau menjadi tanah jajahan baru,
Bukan oleh meriam dan senapan,
Tapi oleh barang-barang murah yang datang tanpa henti,
Menyerbu setiap sudut kota, setiap desa,
Memenuhi pasar, meruntuhkan harga diri kita,
Memaksa rakyat kecil bertekuk lutut,
Menjadi babu di tanah yang seharusnya mereka banggakan.
Siapa yang bersalah, wahai tanah airku?
Siapa yang harus kita salahkan ketika sumber daya alam kita,
Keluar dari tanah ini dengan harga yang tak sepadan,
Dijual murah ke tangan-tangan asing,
Sementara kita hanya bisa menatap hampa,
Melihat kekayaan kita diangkut pergi,
Menghilang di balik cakrawala,
Meninggalkan tanah kita yang tandus,
Rakyat kita yang kelaparan.

Siapa yang bersalah, wahai saudara-saudaraku?
Ketika kehidupan petani kita semakin sulit,
Sawah-sawah mereka yang dulu hijau,
Kini kering dan gersang,
Diterjang oleh kebijakan yang tak memihak,
Dihancurkan oleh impor yang datang seperti banjir bandang,
Menenggelamkan jerih payah mereka dalam kubangan kesedihan.
Siapa yang bersalah, wahai negeri yang katanya merdeka?
Ketika UMKM kita, pilar ekonomi rakyat yang selama ini kokoh,
Terancam hancur dalam badai persaingan yang tak adil,
Ditelan oleh raksasa-raksasa yang datang dari seberang,
Yang memaksakan produk mereka ke dalam pasar kita,
Membuat produk lokal tak lagi punya tempat,
Membuat kita asing di negeri sendiri.
Wahai saudara-saudaraku, apakah kita akan diam saja?
Apakah kita akan membiarkan cacing-cacing itu terus menggali,
Terus menggerogoti tanah air kita hingga tak tersisa?
Apakah kita akan menyerah pada penjajahan baru ini,
Yang datang dengan wajah tersenyum,
Tapi menyimpan pisau di belakang punggung?
Tidak, wahai rakyat Indonesia, bangkitlah!
Usir mereka yang datang untuk merampas tanah air kita,
Tolak kehadiran mereka yang ingin menghisap habis kekayaan kita,
Jangan biarkan mereka menjajah kita lagi,
Jangan biarkan mereka menjadikan kita babu di tanah sendiri,
Ini adalah tanah air kita,
Ini adalah bumi yang kita perjuangkan dengan darah dan air mata,
Jangan biarkan itu dirampas begitu saja!

Wahai rakyat Indonesia, bersatulah!
Jangan biarkan mereka terus merajalela,
Jangan biarkan mereka menindas kita dalam diam,
Mari kita rebut kembali hak kita,
Mari kita jaga tanah ini,
Mari kita usir mereka yang tak punya hak di sini,
Mari kita pastikan bahwa Indonesia tetap merdeka,
Tetap berdaulat,
Tetap menjadi milik kita,
Rakyat Indonesia!
Wahai saudara-saudaraku, garuda kita telah gagap,
Tapi jangan biarkan dia terjatuh,
Mari kita angkat bersama,
Mari kita kibarkan lagi sayapnya,
Usir mereka yang ingin menjajah kita,
Usir mereka yang datang untuk menginjak-injak kita,
Karena ini adalah tanah air kita,
Dan kita tidak akan membiarkan siapapun merampasnya dari tangan kita!
Hidup Indonesia!
Hidup rakyat Indonesia!
Merdeka!










