Oleh : Tim Media Bandung Barat
KABUPATEN BANDUNG BARAT | INFO PASUKAN 08 — Dari kaki pegunungan Cisarua, semangat pengabdian kembali ditanamkan. Sinergi antara dunia akademik dan denyut kehidupan desa diwujudkan melalui pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAI Al-Musdariyah di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Rabu (14/01). Pelepasan dilakukan langsung oleh Irma Nurlatifah, M.Pd., bersama dua dosen pendamping, Asmanah, M.Pd. dan Elis Ela Susilawati, M.Pd.
Desa Kertawangi bukanlah desa biasa. Ia dikenal sebagai lumbung pertanian unggulan Bandung Barat, desa berprestasi yang telah menyandang predikat Desa Wisata Unggulan, mandiri dalam pangan, serta tangguh dalam pengelolaan lingkungan. Di tanah yang subur inilah, mahasiswa STAI Al-Musdariyah menambatkan niat, mengikatkan ilmu pada realitas, dan menumbuhkan pengabdian.
Jembatan Transformasi: Lebih dari Sekadar Kurikulum
Dalam sambutannya, Irma Nurlatifah menegaskan bahwa KKN bukan formalitas akademik, melainkan jembatan transformasi ilmu dan nilai. Kelompok 2 KKN tahun ini mengusung filosofi khas Sunda yang sarat makna: “Nyantri, Nyakola, Nyunda.”
- Nyantri: Menanamkan nilai religius dan akhlakul karimah dalam setiap denyut aktivitas sosial.
- Nyakola: Menggerakkan literasi dan penguatan pendidikan informal bagi generasi muda desa.
- Nyunda: Menjaga marwah budaya lokal dengan etika komunikasi yang santun dan berakar pada kearifan Jawa Barat.
“Kami memproyeksikan kehadiran mahasiswa ini mampu memberi dampak konkret. Ini ruang dialektika—mahasiswa membawa inovasi, sekaligus menyerap kearifan lokal masyarakat Kertawangi yang telah maju,” tutur Irma dengan nada optimis.
Inovasi Berbasis Kebutuhan Lokal
Tidak sekadar hadir, mahasiswa KKN telah merancang program kerja adaptif dan solutif, selaras dengan kebutuhan desa. Fokus pengabdian meliputi digitalisasi pemasaran untuk memperluas akses pasar petani, eduwisata kreatif melalui workshop peningkatan kapasitas remaja, serta modernisasi administrasi desa berbasis teknologi informasi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh pembangunan desa yang cerdas, harmonis, dan berakar kuat pada budaya.
Langkah ini mendapat sambutan hangat dari perangkat desa dan tokoh masyarakat. Potensi alam Kertawangi yang kaya dipadukan dengan gagasan segar intelektual muda—sebuah pertemuan yang menjanjikan masa depan desa yang berdaya saing.
Menanggapi pengabdian tersebut, Iwan Khozin Darmawan, Tokoh Muda Jawa Barat sekaligus Ketua DPW Pasukan 08 Kabupaten Bandung Barat dan Ketua Bantuan Hukum (Bahu Prabowo) Kabupaten Bandung Barat, menyampaikan apresiasi dan dukungan. “Spirit Nyantri, Nyakola, Nyunda adalah fondasi pembangunan manusia. Ketika mahasiswa turun ke desa dengan iman, ilmu, dan budaya, di situlah lahir pembangunan yang berjiwa,” ujarnya. Ia menegaskan, desa kuat adalah kunci Indonesia berdaulat. “Mahasiswa yang mau membumi seperti ini adalah pejuang masa depan—mereka menjaga tradisi sambil menjemput kemajuan,” tambahnya.
Pengabdian ini menjadi ikrar sunyi: bahwa ilmu harus pulang ke rakyat, dan pembangunan sejati tumbuh dari desa—dengan hati, dengan budaya, dan dengan keberanian.
Pewarta: Iwan / garengpetruk
Refleksi Pejuang Digital:
Di antara ladang, doa, dan gagasan muda, kami menitipkan harapan. Semoga setiap langkah pengabdian menumbuhkan maslahat, setiap ilmu menjadi cahaya, dan setiap desa Indonesia berdiri tegak dalam martabatnya.
“Kami bukan sekadar media, kami pasukan nurani yang menyalakan semangat Indonesia.”










