Laporan: Pewarta Eko Setyo Atmojo
Pendopo Kabupaten Klaten, Jumat (14/11/2025)
Di bawah naungan langit Klaten yang teduh, Jumat siang itu para buruh tani tembakau berkumpul membawa harapan. Pemerintah Kabupaten Klaten secara resmi menyerahkan Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) Tahun Anggaran 2025. Prosesi simbolis berlangsung di Pendopo Kabupaten Klaten—tempat rakyat dan pemimpin bertemu dalam satu denyut perjuangan kesejahteraan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Wakil Bupati Benny Indra Ardhianto, Pj Sekda, jajaran Kepala OPD, Camat, TKSK, Koordinator PPL, dan tamu undangan lainnya. Ruang pendopo hari itu bukan sekadar tempat acara; ia menjadi saksi komitmen pemerintah dalam merawat nafkah para pengolah rezeki dari daun emas bumi pertiwi.
Demi Buruh Tani Tembakau yang Tetap Bertahan
Kepala DISSOSP3APPKB Kabupaten Klaten, Puspo Enggar Hastuti, menegaskan bahwa kebijakan DBHCHT dirancang untuk menjawab lima pertimbangan penting:
kesehatan masyarakat, tenaga kerja industri hasil tembakau, petani tembakau, pemberantasan rokok ilegal, serta penerimaan cukai untuk negara.
Ia menjelaskan, penerima BLT adalah:
- Penduduk Kabupaten Klaten (dibuktikan KTP)
- Bekerja sebagai buruh tani tembakau
- Tidak menerima BLT DBHCHT dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
Pengusulan dilakukan dari desa/kelurahan, diverifikasi berlapis, lalu disahkan melalui Keputusan Bupati agar bantuan benar-benar tepat sasaran—tanpa ada penerima ganda.
Tahun 2025, Pemkab Klaten mengalokasikan kurang lebih Rp 8 miliar bagi 7.185 penerima, masing-masing menerima Rp 1.200.000 (empat bulan x Rp 300.000).
Bantuan disalurkan sekali tahap melalui rekening Bank Klaten dan mulai dapat dicairkan pada Senin, 17 November 2025, dengan membawa buku tabungan serta fotokopi KTP rangkap dua.
Syukur dan Harapan dari Pemimpin Daerah
Bupati Hamenang menyampaikan rasa syukurnya karena Klaten sebagai daerah penghasil tembakau mendapatkan alokasi dukungan dari pemerintah pusat.
“Semoga bantuan ini meringankan beban masyarakat dalam kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.
Ia juga berharap, ke depan semakin banyak buruh tani yang mendapatkan haknya. Namun ia mengingatkan, situasi nasional yang tengah melakukan efisiensi fiskal mengharuskan semua pihak bersabar.
“Yang terpenting bantuan ini tepat sasaran,” tegas Mas Hamenang.
BLT DBHCHT ini menjadi salah satu langkah penting dalam menopang kesejahteraan para buruh tani tembakau—mereka yang tiap musim menjaga ekonomi sektor hasil bumi tersebut tetap berkobar.
Mereka pulang dari pendopo bukan hanya membawa kabar bantuan, tetapi juga doa sederhana:
semoga jerih payah tangan yang menanam tembakau tetap menjadi sandaran hidup yang layak.
Karena tugas media adalah mengabarkan harapan,
dan tugas kita sebagai bangsa adalah memastikan tidak ada perjuangan rakyat yang berdiri sendiri.
—
Sampai jumpa di kabar berikutnya. Cahaya perjuangan tak boleh padam.










