Pewarta: Ernawan.k
Editor: Tim Media Pasukan 08
Biro: Klaten
“Bukan konser Coldplay, tapi lebih ramai dan lebih bermakna. Tiketnya? Cuma senyum dan niat baik.” — Celetuk warga Jimbung sambil ngunyah tempe mendoan.
🔥 KLATEN – Kalau semangat bisa dijual, mungkin warga Dukuh Purno Raya udah ekspor ke seluruh dunia.
Tiga hari penuh, dari 31 Oktober sampai 2 November 2025, langit Purno Raya berubah jadi panggung rakyat. Bukan karena hujan bintang, tapi karena warga, anak-anak, dan pelaku UMKM kompak bikin sejarah: Jimbung Art Festival!
Bayangkan — dari bocah SD yang baru bisa main gamelan satu nada, sampai bapak-bapak karang taruna yang suaranya fals tapi semangatnya nendang, semuanya tumpah ruah di acara ini.
Tujuannya? Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat ngangkat seni, UMKM, dan semangat lokalitas Klaten!
🎭 Seni Bukan Cuma di Galeri, Tapi di Hati Rakyat
Festival ini digagas oleh Bapak Aris Pratomo (otak ide brilian) dan Bapak Akbar (komando lapangan Paguyuban Purno Raya).
Mereka bukan influencer, tapi influencer sejati rakyat, karena berhasil bikin anak-anak muda bangkit — bukan buat main ML, tapi buat nari dan main karawitan.
Anak-anak SD dan SMP tampil percaya diri, nari tanpa takut salah langkah, karena yang penting bukan sempurna, tapi penuh cinta terhadap budaya.
Sementara itu, karang taruna jadi band dadakan, main gitar, nyanyi, bahkan bikin penonton ngakak pas mic-nya mati.
Tapi itulah seni rakyat: kalau gagal pun tetap meriah, karena niatnya tulus.
🛍️ UMKM: Dari Dapur ke Dunia
Sebanyak 38 pelaku UMKM buka lapak di festival ini. Ada yang jual tempe, batik, kopi, sampai sambal yang katanya bisa bikin mantan balik (walau belum terbukti secara klinis).
Semua produk lokal, semua rasa nasional.
Paguyuban bilang, tahun depan targetnya bukan cuma 38, tapi dua kali lipat!
Karena kata Bapak Akbar:
“Kalau semangat rakyat ini dikasih kuota tambahan, sinyal ekonomi Klaten bakal full bar!”

🎤 Eyang Yati Pesek: Sang Legenda yang Turun Gunung
Kehadiran Eyang Yati Pesek bikin acara makin nyentuh. Beliau datang bukan buat gaya, tapi buat ngingatkan generasi muda bahwa seni tradisional itu bukan masa lalu, tapi masa depan yang kita rawat hari ini.
Dengan rambut putihnya yang legendaris dan senyum lembutnya, Eyang berkata lirih:
“Seni itu napas bangsa. Kalau kalian berhenti berkesenian, bangsa ini megap-megap.”
Dan penonton pun terdiam… lima detik kemudian tepuk tangan pecah, disusul teriakan bocah:
“Hidup seni! Tapi sambil hidupin sound system dulu, Bu!”
💪 Dukungan Pemerintah, Semangat Rakyat
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom, hadir memberi dukungan langsung.
Katanya, inilah contoh nyata “ekonomi kreatif tumbuh dari akar rakyat”.
Dan memang benar — tak perlu panggung megah, cukup tanah Purno Raya yang berdebu tapi penuh cinta.
“Kami gak nunggu investor datang. Kami mulai dari warung kopi, dari ide kecil, sampai akhirnya jadi festival besar,” ujar Aris Pratomo sambil ngelap keringat.
Katanya sih, keringat perjuangan itu bukan air, tapi bukti cinta tanah air.
✍️ Harapan yang Tak Pernah Padam
Panitia bertekad menjadikan Jimbung Art Festival sebagai agenda tahunan.
Lebih besar, lebih ramai, dan tentu lebih lucu.
Seperti kata Bapak Akbar sambil bercanda:
“Kalau tahun depan masih kekurangan dana, ya kita ngamen dulu. Yang penting semangatnya gak pernah kendor!”
❤️ Quotes Penutup dari Pasukan 08
“Relawan itu bukan orang yang punya banyak waktu, tapi orang yang bikin waktu untuk negerinya.”
“Di Klaten, seni bukan cuma ditonton, tapi dirasakan — sampai gigil.”
Pasukan 08 – Dari Rakyat, Untuk Negeri.
Satu langkah kecil dari Jimbung, satu lompatan besar untuk semangat Indonesia! 🔥










