Pelayanan Publik Tetap Jalan Meski Kantor Desa Disegel Ahli Waris Lahan
Pewarta: Ernawan.k
Editor: Tim Gareng-Petruk
Biro: Klaten
KLATEN – Dua hari penuh, Rabu dan Kamis, Kantor Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, disegel oleh ahli waris lahan. Aksi ini menjadi puncak kekecewaan atas lambannya proses tukar guling tanah yang tak kunjung menemui kejelasan. Namun di balik penyegelan itu, tersimpan keteguhan dan sikap bijak seorang pemimpin desa yang memilih jalan mediasi daripada konflik terbuka.

Kepala Desa Kadirejo, Agus Widodo, tak menutup mata atas keresahan warganya. Ia bergerak cepat mengajak ahli waris duduk bersama, membicarakan solusi dengan hati dan pikiran jernih. “Benar, kantor desa sempat disegel selama dua hari. Tapi kami memilih jalur komunikasi, bukan konfrontasi. Alhamdulillah, hari ini segel sudah dibuka dan aktivitas kembali normal,” ujarnya dengan nada lega, Jumat (31/10/2025).
Selama penyegelan, pelayanan publik tak berhenti. Pemerintah desa memindahkan operasional ke kantor BUMDes, memastikan warga tetap bisa mengurus kebutuhan administratif tanpa hambatan. “Kantor boleh disegel, tapi pelayanan tidak boleh mati,” tegas Agus Widodo — pernyataan yang menggambarkan semangat pengabdian seorang pelayan rakyat sejati.
Dari sisi lain, pihak ahli waris menyampaikan bahwa langkah penyegelan diambil sebagai bentuk protes atas ketidakpastian proses tukar guling tanah yang telah berlangsung lama. Mereka menuntut kepastian hukum dan penyelesaian yang konkret.

Menanggapi hal itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten memberikan klarifikasi bahwa proses tukar guling memang kompleks dan memerlukan waktu. “Estimasi maksimalnya sekitar 300 hari, tetapi kami berupaya keras agar bisa lebih cepat,” ungkap perwakilan Dispermasdes. Mereka memastikan bahwa koordinasi antara Pemdes, notaris, BPN, dan Dispermasdes kini sudah berjalan untuk menginventarisasi seluruh kekurangan administratif.
Kini, setelah pintu kantor desa kembali terbuka, harapan baru muncul. Semua pihak sepakat melanjutkan penyelesaian dengan semangat kolaborasi dan transparansi.
Kisah Desa Kadirejo ini menjadi cermin bahwa penyelesaian persoalan publik tidak selalu harus lewat benturan, tapi bisa lewat dialog, empati, dan kesadaran bersama bahwa tujuan akhirnya adalah pelayanan yang berpihak pada rakyat.
Penutup
Di tengah tantangan dan tekanan, pemimpin sejati diuji bukan oleh seberapa keras ia melawan, tapi seberapa tulus ia mendengarkan. Kepala Desa Kadirejo membuktikan, bahwa menjaga martabat pemerintahan desa bukan berarti mengeraskan suara, tapi menguatkan hati dan membuka pintu dialog.
Ketika segel dibuka, bukan hanya kantor yang kembali berfungsi — tapi juga kepercayaan warga yang kembali hidup.
Karena kekuatan sejati sebuah desa bukan pada bangunannya,
melainkan pada kejujuran dan semangat melayani rakyatnya.










